Muka Dua atau Menyesuaikan

-Munafik Katanya-


Dari waktu aku masih SMP kelas 7, atau setara kelas 1 karena begitu kan siklusnya. Setelah jadi kakak kelas, pasti balik jadi adik kelas lagi. Pertama kali masuk SMP, udah punya beberapa plan, like everything i must to do in this year. Tapi tiba-tiba aja semua rencana itu gagal. Mulai dari bakalan ngejar ranking satu, bangun relasi sama temen-temen yang lain, itu semua ga kelaksanain sama aku di kelas 7 dan 8.

Mulai dari situ aku tau tuh, yang namanya 'diomongin' sama orang. Kalau bahasa kita sekarang 'digibahin'. Awalnya ga ambil pusing sama omongan orang-orang, tapi makin kesini makin gaada hati banget ngomongnya. Aku dikatain pelakor, pho, carmuk, dan banyaklah pokoknya. Padahal aku sendiri lebih sering menghabiskan waktu di kelas, kok bisa sih mereka bilang kaya gitu?

Sampai suatu hari nih, aku minjem HP temen yang lagi main kerumah. Aku udah izin sama dia buat buka HP nya, dan dia juga bilang kalau ada chat dari whatsapp masuk ke HP nya, tolong bales dan bilang kalau yang balesnya itu aku. Karena udah dapet izin yaudah aku main HP nya aja, buka instagram, liat youtube dan sesekali buka whatsapp.

Lagi asik nih main fitur-fitur di instagram, tiba-tiba ada chat masuk. Otomatis dong aku buka dan liat siapa yang chat, ternyata adik kelasnya. Aku lupa sih di bales atau engga waktu itu, tapi yang jelas aku tiba-tiba iseng buat nyari kontak aku dinamain apa sama temen aku ini. Dan u know? how suprised i was at that time. Aku langsung baca salah satu chat yang muncul kalau kita ketik nama kita, dan keliatannya mereka lagi ngomongin aku.

Satu-satunya hal yang paling gabisa aku lupain ketika temennya itu bilang "Munafik ya padahal cantik". OMG SERIOUSLY? Aku aja ga terlalu kenal sama orang itu dan temen aku yang ini aja baru deket beberapa minggu lalu. Ga habis pikir kenapa dia bisa bilang kaya gitu, tapi yaudah akhirnya aku intropeksi diri dan mencoba cari tahu maksud mereka kan.

Aku cari tahu kata 'Munafik' itu apa sih dan diperuntukkan untuk siapa saja sebenarnya. Banyak waktu yang udah aku lalui saat itu, sampai aku menemukan maksud dari kata 'Munafik' yang mereka tujukan ke aku. 

Munafik juga bisa kita peruntukkan untuk orang yang bermuka dua. Entah atas dasar apa, ketika aku baca di internet dan sosial media lainnya pun memang begitu. Tapi, coba kembali ke definisi baru ini. Suatu saat, setelah lulus dari SMP, aku punya temen perempuan yang kurang aku suka. Bukan apa-apa, tapi karena mungkin aku yang kebawa omongan orang-orang pada saat itu.

Aku juga berpikir, oh iya! mungkin dua orang yang pernah ngomongin aku waktu itu karena banyak juga pihak-pihak yang bicara tidak sesuai faktanya tentang aku, jadi mereka kebawa atau bisa aja karena belum tahu sifat aku yang asli kalau udah deket kan. Tapi, kalau kata aku, sifat asli yang bener-bener asli itu gapernah ada yang tahu. Nanti kita bahas ini di tempat yang berbeda deh.

Waktu itu aku emang selalu baik di depan sosok perempuan yang aku kurang suka ini, aku memang selalu menjaga yang namanya hubungan, se-gasuka apapun aku sama dia, yang namanya silaturahmi tetap tidak boleh putus kan. Dan memang, ketika dia udah ga bareng aku, aku tetep kesel dan ga suka sama dia. Tapi gapernah aku tunjukkin dan aku selalu baik aja sama dia. Aku berusaha nerima dia yang kaya itu, sampai saat ini aku udah biasa aja tuh sama dia.

Get the point? Aku emang gasuka sama dia, tapi aku tetep berusaha menghilangkan rasa gasuka itu dan tetep berbuat baik sama dia. Kesannya kaya 'munafik' kan? padahal aku pribadi memang tipe orang yang selalu menyesuaikan diri sesuai dengan orang yang ada di depan aku dan sesuai sikap mereka ke aku. 

But, bermuka dua biasanya cenderung baik banget di depan, tapi ketika dibelakang nusuk, menjatuhkan, menyebar fitnah, dsb. Kalau menyesuaikan, orang ini banyak yang memang baik ketika di depan, tapi ketika dibelakang dia tetap menyembunyikan rasa gasukanya dan berusaha menghilangkannya walaupun orang lain taunya kita gasuka sama doi.

Nah, seharusnya kita ga bisa kan langsung nilai orang kaya gitu. Bisa jadi salah paham, kalau kita emang gasuka sama seseorang mending di pendem aja deh, coba terima kalau memang sikap setiap orang itu beragam, suka gasuka ya itu sifatnya, ga guna banget nyebarin hal-hal buruk tentang mereka ke orang lain. Coba kalau posisinya dibalik, kalian mau?

Jadi, mulai dari sekarang, harus paham kalau memang sikap dan sifat orang itu beda-beda. Kita berhak gasuka, tapi gausah diomongin. Coba terima aja, coba diem aja dan berusaha tetap baik sama orang yang kita gasuka. Ya mungkin ada yang bisa dan engga, tapi seengganya stop buat ngomongin orang kalau kalian gasuka.

Bermuka dua atau menyesuaikan diri, terdefinisikan hampir masuk kedalam kata 'munafik' , tapi bagi beberapa orang yang ingin mencari perbedaanya pasti jauh banget kok bedanya.  

Komentar

Posting Komentar